Tata Cara Bentuk Posisi Sikap Yang Baik Dan Benar
1. Tatapan Lurus Kedepan dan Pkiran Harus Fokus
2. Tangan Kanan Mengepal
3. Tangan Kiri Terbuka Rapat Lurus Ke Atas
4. Kedua Tangan Bertemu Di Depan Ulu Hati
5. Kedua Kaki Rapat Dan Kedua Jempol Kaki Rapat Dan Saling Bertemu
Senin, 13 Februari 2017
SBDS.TS Cikarang
TUJUAN BERDIRINYA SENI BELADIRI SILAT TIGA SERANGKAI DI CIKARANG:
-Tujuan.
Perguruan
Seni Beladiri Silat Tiga Serangkai dalam mengembangkan keilmuannya senantiasa
memegang teguh dan berpedoman kepada ajaran-ajaran agama, sehingga visi dan
misi Perguruan TS selalu bernuansa “ Dakwah Islamiyah “ yang kental dengan
syari’at. Oleh karena itu, tujuan Perguruan TS terkristalisasi menjadi dua
penekanan, yaitu Tujuan Khusus dan Tujuan Umum sebagai berikut :
Tujuan Khusus :
1.
Membekali anggota dengan “ Ilmu Seni Beladiri Do’a “,yaitu
beladiri untuk menangkal terhadap serangan/ancaman/keangkaramurkaan yang
datangnya dari luar. Serangan/ancaman/keangkaramurkaan tersebut dapat bersifat
fisik ataupun non fisik.
2.
Membentuk dan membina “Akhlaqul Karimah “anggota sesuai
dengan ajaran agama.
3.
Sebagai sarana untuk meningkatkan “Ketaqwaan“ anggota kepada Allah
SWT. Segala bentuk pengamalan Ilmu TS senantiasa tetap memegang teguh “ Prinsip
Ketauhidan “
Tujuan Umum :
1.
Meningkatkan kreatifitas,
pengetahuan serta kemampuan anggota terhadap Seni Beladiri
2.
Meningkatkan kesadaran berorganisasi
di lingkungan pemuda dan masyarakat.
3.
Menunjang usaha-usaha pemerintah
dalam meningkatkan kesehatan fisik dan budaya bangsa Indonesia.
4.
Memupuk rasa kebersamaan,
persaudaraan, persahabatan, persatuan dan kesatuan pemuda Indonesia.
5.
Meningkatkan kesejahteraan anggota.
KUNCI
MEMPELAJARI PERGURUAN “TS”
Perguruan
Seni Beladiri Silat Tiga Serangkai adalah seni beladiri do’a yang didalamnya
terdapat perpaduan beberapa unsur membentuk kekuatan dan tenaga yang utuh dan
sempurna. Unsur-unsur tersebut terdiri dari Kemampuan, Pengetahuan, Sugesti dan
Etika (Akhlaqul Karimah) yang melebur menjadi satu membentuk kekuatan
Ilmu Tiga Serangkai. Dengan kata lain, bahwa kekuatan Ilmu Tiga Serangkai
merupakan satu kesatuan yang utuh dari unsur Kemampuan, Pengetahuan, Sugesti
dan Etika (Akhlaqul Karimah).
Keterpaduan
ke-empat unsur tersebut diatas harus senantiasa ditingkatkan, dipertahankan dan
dipelihara setiap saat secara sungguh-sungguh untuk mencapai kekuatan ilmu Tiga
Serangkai yang sempurna. Oleh karena itu diperlukan sikap dan perbuatan yang
terpuji, kesabaran dan istiqomah dalam melatih diri.
Kunci
kekuatan ilmu Tiga Serangkai adalah” Amalan Pokok “ ( do’a ) nya yang
mencerminkan ke-empat unsur di atas. Untuk memiliki ilmu Tiga Serangkai yang
lebih sempurna kekuatannya maka harus memiliki kuncinya. Setiap kunci kekuatan
tersebut terdapat “ Gigi-gigi “ yang dapat membuka “ Pintu “ kekuatan ilmu Tiga
Serangkai. Gigi-gigi itu adalah Etika ( Akhlaqul Karimah ). Amal perbuatan dan
tingkah laku dari yang mengamalkan ilmu Tiga Serangkai sangat menentukan
kehandalan dari ilmu Tiga Serangkai. Jadi, walaupun anggota Perguruan TS telah
mempunyai ilmu Tiga Serangkai tingkat tinggi tetapi tidak mempunyai Etika yang
baik ( akhlaq yang tidak terpuji ) maka tidak sempurnalah kemampuan ilmu Tiga
Serangkai-nya dan bahkan sangat diragukan kemampuannya. Oleh karena itu,
Perguruan TS mengharuskan anggotanya untuk memiliki Etika yang terpuji (
Akhlaqul Karimah ). Sesungguhnya target yang dikehendaki dari adanya unsur
Etika dalam perguruan Tiga Serangkai adalah untuk menjernihkan, mensucikan dan
mencemerlangkan “ Hati “ anggota agar kemampuan ilmunya betul-betul kuat dan
sempurna menurut ilmu Tiga Serangkai. Allah berfirman:
“Sungguh
akan memperoleh kemenangan bagi orang yang membersihkan jiwanya. “ (Surat
Asy-Syam :9).
Disinilah
letak perbedaan sekaligus kekhususan ilmu Tiga Serangkai dibandingkan dengan
ilmu beladiri dari perguruan lain.
SEJARAH SINGKAT PERGURUAN SENI BELADIRI SILAT TIGA SERANGKAI
Perguruan Seni Beladiri Silat Tiga Serangkai yang sering disingkat sebagai Perguruan TS merupakan suatu perguruan silat tenaga dalam, berasal dari pulau Madura dan berpusat di suatu desa terpencil bernama Desa Jukong, Kecamatan Labang, Kabupaten Bangkalan, Madura. Perguruan TS ini adalah seni beladiri do’a yang terbentuk, digali dan bersumber dari nilai-nilai luhur agama dan budaya bangsa Indonesia. Perguruan ini telah mengembangkan keilmuannya sesuai dengan potensial tenaga dalam yang ada pada setiap tubuh manusia serta melalui kekuatan supra natural atau permohonan dan do’a kepada Allah SWT. Tuhan Yang Maha Esa sehingga dapat dimanfa’atkan untuk berbagai keperluan hidup, baik untuk pertahanan dan ketahanan tubuh ( beladiri ), terapi atau pengobatan suatu penyakit maupun digunakan untuk keperluan-keperluan hidup lain sehari-hari.
Guru Besar ( Pembina ) dan sekaligus sebagai pendiri Perguruan TS adalah bapak Drs.Ec.Sugianto. Beliau seorang yang sangat ramah, sabar, rendah hati dan sangat alim sehingga perguruan ini sangat diminati, disegani dan dihormati masyarakat. Tidak heranlah apabila perguruan ini berkembang sangat pesat ke segala pelosok tanah air.
Menapak tilas berdirinya Perguruan TS ini senantiasa erat hubungannya dengan keberadaan Guru Besar atau bapak Pembina. Sejarah terbentuknya Perguruan TS tidaklah terlepas dari perjalanan dan pengalaman hidup Pembina dalam menggeluti dan menempa diri ilmu-ilmu beladiri, baik ilmu beladiri fisik maupun beladiri non fisik. Berkat pengalaman dan penguasaan ilmu yang didapat itulah menjadikan beliau sebagai seorang Guru Besar yang berwibawa dan kharismatik di mata murid-muridnya. Menurut penjelasannya, sejak kecil Pembina telah malang melintang menggeluti dan mempelajari berbagai macam ilmu beladiri diantaranya adalah perguruan Budi Suci , Lemkari ( karate ), “ Karomah “ , ilmu-ilmu Kanoragan dan lain sebagainya dari berbagai daerah di tanah air. Pada suatu kesempatan, Pembina pernah pula menyerap ilmu beladiri kepada keturunan ke - 9 dari “ Joko Tingkir “ (Sultan Hadiwidjojo, raja Pajang). Peranan paman dan kakek Pembina dari Sumenep - Madura yang masih ada kaitan kerabat dengan “ Bujuk Lanjeng “, “ Bujuk Lampek “, “ Bujuk Mahe “ dan Bindhere Saod, sangat membantu dalam memantapkan serta mewarnai keilmuannya. Dari kakeknya inilah Pembina dididik dan di bina sejak kecil. Ilmu-ilmu yang telah dikuasainya diramu, dipadu, di uji cobakan dan dikembangkan terus dengan tekun serta di ikuti dengan permohonan ( do’a ) kepada Allah SWT, maka terciptalah / lahirlah suatu ilmu beladiri yang mempunyai karakteristik ( kekhususan ) tersendiri. Ilmu beladiri tersebut merupakan “ Ilmu Seni Beladiri Do’a “ yang didalamnya terkandung perpaduan yang solid dari
beberapa unsur, yaitu Kemampuan, Pengetahuan, Sugesti dan Etika ( Akhlaqul Karimah ) yang membentuk suatu kekuatan / tenaga yang utuh dan sempurna. Ternyata ilmu seni beladiri do’a tersebut memiliki keunggulan tersendiri yang bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga maupun masyarakat. Untuk lebih memantapkan dan menyempurnakan ke-ilmuannya, Pembina mengkonsultasikan ilmu seni beladiri do’a tersebut kepada salah seorang gurunya ( ahli ma’rifat ) dari Ledokombo yaitu K.H.Misra’i. Berkat saran guru K.H.Misra’i itu pula, maka Pembina hijrah ke Madura dan mulai mengembangkan ilmu beladiri do’a tersebut.
Pembina pertama kali mengajarkan dan menularkan ilmu seni beladiri do’a tersebut hanya di lingkungan keluarga dan kerabat dekatnya. Tetapi melihat dampak positif dan manfaat yang sangat dirasakan oleh masyarakat serta atas desakan sesepuh / tokoh masyarakat sekitarnya, akhirnya dengan keikhlasan hati yang tulus Pembina membuka diri dan mengajarkannya kepada siapa saja yang betul-betul berminat. Pada tanggal I April 1991 terbentuklah suatu organisasi seni beladiri yang membuka tiga cabang sekaligus dalam waktu yang bersamaan, yaitu Cabang Jukong, Cabang Kalisat, dan Cabang Jember. Guna mengenang dan mengingat hari yang bersejarah itu, organisasi ilmu seni beladiri do’a ini diberi nama “ Perguruan Seni Beladiri Silat Tiga Serangkai “ dan Desa Jukong ditetapkan sebagai Pusat Perguruan TS karena Pembina bertempat tinggal dan berdomisili di Desa Jukong, Kecamatan Labang, Kabupaten Bangkalan.
Sejak itulah tonggak sejarah Perguruan Seni Beladiri Silat Tiga Serangkai berkembang terus hingga sekarang. Pada tanggal 23 Mei 1991 Perguruan Seni Beladiri Silat Tiga Serangkai terdaftar sebagai Organisasi Kesenian / Kebudayaan pada Kantor Depdikbud Kabupaten Bangkalan dengan Nomer Induk :27/E/2G/I.04.13/C/1991 serta berdasarkan Surat Keputusan Ketua Umum Ikatan Pencak Silat Indonesia ( IPSI ) Kabupaten Bangkalan Nomer : 02/IPSI/ PC.BKL/93/SK tanggal 22 Nopember 1993 secara resmi Perguruan TS ini dinyatakan sah sebagai anggota IPSI Cabang Kabupaten Bangkalan.
Semoga Perguruan Seni Beladiri Silat Tiga Serangkai senantiasa berkarya, utuh, kuat, jaya dan selalu dalam ridho Allah SWT. Amien
apa bila ada yang ingin melihat cuplikan vidio tentang Seni Beladiri Silat Tiga Serangkai ada di bawah ini:
Langganan:
Postingan (Atom)


